.quickedit{ display:none; }
Tampilkan postingan dengan label Air Asia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Air Asia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 September 2018

BIRTHDAY TRIP [PART II: RIWEUH DI MANILA AIRPORT]


Baru saja duduk di kursi pesawat Air Asia Philippines yang akan membawa saya terbang ke Manila, saya sudah senyam-senyum sendiri mendengar pramugari berbicara menggunakan bahasa Tagalog. Bahasa yang terdengar unik di telinga saya karena seolah-olah seperti mendengar salah satu bahasa daerah di Indonesia.

Penerbangan 4 jam ditempuh dengan banyak turbulence keras. Konon katanya rute Jakarta-Manila adalah salah satu rute dengan “banyak lobang” sehingga hampir dapat dipastikan penerbangan di rute ini jarang yang mulus-mulus saja. Tapi saya mah cuek dan tetap bisa tidur-tidur ayam di tengah guncangan keras berulang kali. Syukurnya, penerbangan nggak nyante itu berganti dengan pemandangan Manila Bay yang super tjakep sesaat menjelang pesawat mendarat. Kita bisa melihat kawasan teluk dan gedung-gedung tinggi Manila yang ditimpa cahaya langit sore. Syahdu banget. Sayangnya saya tidak duduk di window seat jadi tidak bisa memotret atau memvideokannya. So, make sure kamu ambil kursi dekat jendela terutama di sisi sebelah kiri pesawat jika ingin menikmati pemandangan memukau ini.

Ninoy Aquino International Airport (NAIA) adalah bandara utama di Filipina. Terminal 3 tempat pesawat saya mendarat cukup lapang dan lega. Meskipun desain eksteriornya terlihat seperti dari jaman old, interiornya tampak sudah di-refurbish dan sudah cukup memenuhi standar airport yang nyaman versi saya. Somehow saya suka sih dengan T3-nya NAIA, sedikit lebih baik dari T3 Soetta yang meskipun baru dan modern, entah kenapa gagal memenuhi ekspektasi saya. Eitss, ini pendapat pribadi aja lho, no offense. However,.... NAIA secara keseluruhan juga banyak minusnya. Pertama, belum ada transportasi umum yang reliable dari dan ke bandara. Well, Bisa aja sih kalau keukeuh juga dengan naik jeepney disambung dengan MRT plus jalan kaki. Tapi kok ya ribet, nggak praktis dan nggak nyaman ya? Belum lagi kalau macet, Manila lumayan bikin gila juga. Otomatis satu-satunya cara ya dengan taksi bandara. Syukurnya NAIA itu sendiri sudah berada di tengah kota (Pasay city) jadi lumayan dekat kalau ke daerah lain semisal Makati city, tempat paling populer di Metro Manila. Bagusnya lagi taksi bandara sudah dikelola dengan cukup baik. Tinggal antri secara teratur, duduk manis dan ngadem, sampailah saya di hotel di daerah Makati dengan rate kira-kira 100 ribu rupiah. Cukup worth, apalagi kalau pergi rame-rame bareng teman atau keluarga.


Manila Bay at night
Kedua, terminal-terminal di NAIA (ada empat terminal) belum terintegrasi dengan baik. Keempat terminal itu seolah berdiri sendiri-sendiri dan tidak dihubungkan dengan shuttle antar terminal yang memadai. Sumpah rempong dan bikin kesal untuk yang punya penerbangan lanjutan di terminal yang berbeda. Jangan bertaruh deh kalau spare waktu penerbangannya mepet, bisa-bisa kalian jantungan ketinggalan pesawat. Pengalaman tak menyenangkan ini sempat saya alami. Jadi gini, waktu balik dari Kalibo (Boracay) saya mendarat menjelang maghrib di T4 yang super duper kecil tapi penuh sesak kayak pasar tumpah. Dari T4 saya harus berpindah ke T3 untuk penerbangan selanjutnya, selisih waktu penerbangan kira-kira 4 jam. Karena tidak ada petunjuk yang jelas, saya tanyalah sana-sini sama petugas di mana saya bisa ambil shuttle airport untuk pindah ke terminal lain. Gaje! Ada yang (dengan tidak pasti) cuma tunjuk-tunjuk doang di mana saya mesti nungguin shuttle. Ada yang nggak yakin ada shuttle apa nggak (nah lho?). Ada pula yang nyaranin saya naik taksi aja. Eh buset, masak pindah terminal doang mesti naik taksi. Lucu!


Manila, the Pearl of the Orient
Setelah sekian lama, sambil gelisah modar-mandir dan celingak-celinguk mempertimbangkan apakah saya sebaiknya naik taksi saja, terlihatlah bus besar dengan papan bertuliskan T2 dan T3. Saya sempat berlari sambil teriak-teriak manggil sopir busnya, soalnya dia nggak berhenti di tempat yang saya perkirakan, takutnya saya ketinggalan. Sambil terengah-engah saya tanya sopir untuk memastikan bahwa bus ini bakal ke T3. Yup bener. Sayapun sedikit lega. Etapi was-was saya belum berhenti saat bus ini akhirnya bergerak keluar dari T4. Ternyata terminal NAIA itu satu sama lainnya benar-benar terpisah meskipun berdekatan! Jadi rutenya keluar area terminal, lalu masuk ke jalanan umum perkotaan dulu, terus masuk ke area terminal lagi, keluar lagi, masuk kota lagi, balik lagi ke terminal, gitu aja terus sampe lebaran monyet! Terus lagi nih, rutenya itu ternyata random! Jadi bukannya dari terminal 1 ke 2 terus ke 3 gitu, nggak! Seenak udel supirnya bae! Saya ingat abis muter-muter gaje masak saya balik lagi ke T4! Lawak kali kan? Udah gitu ngetem di tiap terminal lama banget lagi. Pantes dong ya penumpang bus ini sepi. Terkahir, saat mau turun, penumpang dimintai bayaran (saya lupa berapa Peso). Yak, bayar sodara-sodara! Kan bangke! (bersambung).

Kamis, 02 April 2015

JALAN-JALAN KE HONG KONG, MACAU, DAN SHENZHEN (PART I)


SELAYANG PANDANG
  
Avenue of The Stars Hong Kong
    Sudah lama saya berkeinginan untuk megunjungi negara-negara SAR (Special Administrative Region) seperti Hong Kong dan Macau serta SEZ (Spesial Economic Zone) yakni Shenzhen di China Selatan. Bahkan ketika buku “2 juta Keliling Macau, Hong Kong, dan Shenzhen”-nya Claudia Kaunang terbit di awal 2010, keinginan itu sudah cukup kuat. Tapi apa daya, saya harus cukup sabar menanti hingga akhirnya kesempatan itu benar-benar terwujud di bulan Maret 2015. Ternyata kesabaran saya berbuah manis, bukan hanya sekedar terwujud, tapi it happens when everything’s perfect! Saat saya di bulan Maret itu sudah resign dari kerjaan dan akan pindah ke Jakarta di bulan April. Saat saya akhirnya dapat beasiswa ke luar negeri. Saat cuaca di awal musim semi yang sejuk dan bunga bermekaran. Dan lebih istimewa lagi karena saya akan berulang tahun saat traveling kali ini. Oh my God, what a wonderful life, I am very blessed! Lalu, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Karena itu, saya percaya, teruslah menghidupkan impian kita, dekatkanlah ia dengan doa dan usaha, jatuh bangun biasa, lalu lihatlah betapa menakjubkannya Allah SWT menjawab mimpi-mimpi kita itu. So keep dreaming and keep going guys!
source: www.cosmic-pearl.com
         Jika dilihat di peta, negara-negara SAR yang mini ini terletak relatif cukup jauh dari Indonesia. Ukuran jauh menurut saya bila waktu terbang sudah lebih dari tiga jam di mana kebosanan, kelelahan dan keroncongan biasanya mulai melanda. Jarak yang relatif jauh juga biasanya berkorelasi dengan harga tiket pesawat yang sudah tidak bisa murah lagi, sehingga banyak budget traveler kere seperti saya yang urung dan memaksukkan negara SAR dalam daftar “nanti-nantilah” bucket list mereka. Ditambah lagi dengan image Hong Kong sebagai negara mahal dan elit, makin-makinlah enggan untuk pergi ke sana. Tapi apakah memang benar demikian? Nah, berikut akan saya jelaskan mengapa Anda perlu segera “mengeksekusi” SAR tanpa perlu Andi Lau (antara dilema dan galau) lagi. Oke, lanjruuut! 
       Bagi traveler pemula dari Indonesia, Hong Kong dan Macau mungkin terlihat sangat asing. Memang asing bila pembandingnya adalah Malaysia dan Singapura yang lazim dikunjungi dan “serupa tapi tak sama” dengan Indonesia. Tapi jangan salah, meskipun relatif jauh, warga negara Indonesia harus bersyukur bahwa kita sangat gampang masuk ke negara Hong Kong dan Macau, segampang masuk ke negara-negara tetangga. Cukup hanya bermodal paspor tanpa perlu rempong mengurus visa, kita sudah mendapat izin tinggal selama 30 hari. Saya tidak tahu pasti alasannya apakah karena memang WNI (baca; TKW) kita sangat dibutuhkan di sana atau memang Hong Kong dan Macau menerapkan kebijakan memudahkan turis masuk ke negara mereka. Jadi tidak ada alasan untuk ragu masuk ke negara SAR seharusnya.
       Untuk masuk SEZ Shenzhen ternyata juga sangat mudah. Cukup apply VOA (Visa on Arrival) yang prosesnya amat mudah dan membayar 168 Yuan di gerbang imigrasi Shenzhen manapun yang dimasuki entah itu bandara, stasiun kereta, atau pelabuhan ferry. VOA ini hanya berlaku lima hari terbatas di SEZ Shenzhen. Kebanyakan orang Indonesia masuk ke Shenzhen melalui jalur darat (kereta) dari Hong Kong di border Lowu/Luohu. Pada praktiknya, Saya belum bertemu orang Indonesia yang masuk dari gerbang imigrasi lain seperti bandara dan pelabuhan ferry dengan VOA. Tapi menurut saya, VOA mestinya juga bisa diperoleh melalui gerbang tersebut.
source: http://www.macstudies.net
       Berhubung tiga wilayah ini kecil dan saling berdekatan, tidak jadi soal Anda mau memulai dan mengakhiri perjalanan di mana. Saya masuk dari Hong Kong, mampir ke Shenzhen, kembali lagi masuk Hong Kong dan keluar lewat Macau. Sebagian besar traveler memilih untuk tidak mengulang rute agar lebih efisien dan efektif. Tapi dalam kasus saya, dalam 12 hari perjalanan (tambah 2 hari di Kuala Lumpur), saya menyesuaikannya agar mendapat jadual sholat Jumat di Hong Kong dan hari ulang tahun saya yang jatuh pada 21 Maret di dua negara sekaligus, yakni Hong Kong dan Macau just for making it memorable! Hehehe…

       Bagaimana dengan harga tiket pesawat? Seorang staf KJRI Hong Kong yang saya temui mengatakan bahwa ia sedikitnya menghabiskan 5-6 juta rupiah PP (tarif normal) dengan Full Board Airlines seperti Garuda Indonesia untuk rute direct Jakarta-Hong Kong. Saat saya cek website Garuda, ada promo USD 354 atau sekitar 4,5 jutaan PP. Tapi bila sedang mahal, yah siap-siap saja merogoh kocek lebih dalam. Selain Garuda, Cathay Pasific, dan China Airlines   yang terbang direct, masih ada pilihan Full Board Airlines lain seperti Singapore Airlines, Malaysia Airlines, dan Thai Airways yang transit di ibukota negara masing-masing. Meskipun harus transit, entah mengapa harga tiket maskapai negara tetangga ini kadang (sering) lebih murah. Pesan saya, sering-seringlah cek website maskapai dengan cara subscribe newsletter-nya melalui e-mail. Jangan malas untuk berburu tiket promo. Bila ada promo Full Board Airlines yang sangat menggiurkan dan budget bukan masalah, apalagi bila direct dan kebetulan Anda berdomisili di Jakarta, lebih baik Anda memilihnya. Hal ini akan lebih efektif dan efisien dari segi waktu dan tenaga, juga kepuasan penerbangan tentunya.   
AA dan KLIA2 jadi pilihan efektif dan efisien
Tentu saja pilihan saya jatuh pada LCC (Low Cost Carrier). Dan lagi-lagi Air Asia menjadi the one and only. Bukan kenapa-napa, tapi bagi saya yang tinggal di Pekanbaru, Air Asia menjadi satu-satunya pilihan terefektif dan terhemat. Sesungguhnya saya amat beruntung tinggal di Pekanbaru karena Kuala Lumpur yang menjadi hub Air Asia hanya selemparan batu akik jaraknya. Tidak promo saja harga tiket PKU-KUL pp sudah sering cukup murah. Apalagi kalau promo, sering gratis malah! Nah, di Kuala Lumpur tahu sendirilah, hampir seluruh rute internasional Air Asia bermula di sini. Fyi, saya menghabiskan total Rp 1.468.788 (belum termasuk airport tax SSK II Rp 150.000) dengan rincian PKU-KUL pp Rp 483.000, KUL-HKG RM 153, dan MFM-KUL RM 122.36 (plus Sky Bus dari KLIA2 ke KL Sentral), dengan kurs 1 RM = Rp 3.580. Murah banget bukan?! Oh iya, semua tiket yang saya beli adalah tiket promo di bulan November 2014 tanpa makanan dan bagasi. Jika tidak ada promo pun, total harga tiketnya tidak lebih dari 3 jutaan, jadi masih affordable. Selain Air Asia yang transit di Kuala Lumpur, masih ada maskapai LCC lain seperti Tiger Air dan Jetsar yang transit di Singapura. Harga tiket antara tiga maskapai budget ini bersaing. Pilihan tergantung jam berangkat dan jam sampai yang Anda inginkan serta pilihan transit di mana. Bagi Anda yang tinggal di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, pilihan penerbangan akan lebih banyak. Sekali lagi, rajin-rajinlah mengikuti promo maskapai karena budget untuk tiket pesawat yang bisa ditekan seminimal mungkin akan sangat berpengaruh terhadap total keseluruhan budget perjalanan. So, selamat berburu tiket murah.
Mi dan kopi dari rumah, bekal sarapan berpetualang
Lalu bagaimana dengan image mahal seperti yang saya singgung di atas sementara kita traveler dengan budget terbatas? Hong Kong memang relatif mahal. Untuk ukuran penginapan, tarif guest house di Hong Kong mungkin sebanding hotel berbintang bila di Thailand atau Vietnam. Untuk makanan, belanja, transportasi, tiket wahana, dan biaya-biaya lain juga relatif mahal. Pengecualian untuk Shenzhen yang cukup murah dan terjangkau baik penginapan, makan, belanja dan transportasi, biaya-biaya di Makau juga relatif mahal. Hal ini bisa dimaklumi karena (sialnya) nilai rupiah terus melemah terhadap mata uang manapun sehingga jalan-jalan ke luar negeri (manapun) pada hakikatnya semakin terasa berat di ongkos saja. Tapi mahal bukan berarti tidak bisa disiasati. Satu porsi makanan di tiga negara ini sangat banyak sehingga untuk lambung orang Indonesia yang kecil dan terbiasa tidak makan banyak, satu porsi sudah bisa untuk dua orang. Bawalah bekal seperti pop mi, mi gelas, dan sosis untuk memangkas budget sarapan. Air minum bisa di-refill di penginapan, tap water gratis atau di masjid, atau ambil di kasino di Macau. Bila berpergian sendiri, menginap di kamar dorm tentunya menjadi pilihan hemat. Wahana-wahana hiburan memang mahal, tapi saya hanya mengalokasikan dana untuk mengunjungi yang sepatutnya dikunjungi saja. Masuk museum-museum yang keren di Hong Kong GRATIS pada hari RABU. Manfaatkan shuttle bus gratis di Macau. Perbanyaklah jalan kaki dan naik tram yang lebih murah-meriah di Hong Kong. Dan masih banyak lagi cara-cara berhemat yang akan saya jelaskan lebih lanjut nanti.
Oh iya, Anda sering ke Singapura? Nah, kalau iya, saya akan cukup heran. Singapura tidak lebih murah daripada Hong Kong kok! Bahkan sesungguhnya dollar Singapura jauh lebih “membunuh” daripada dollar Hong Kong. Dalam lima tahun terakhir saja (2010-2015), SGD diam-diam sudah mengalami kenaikan hampir 3000 rupiah sedangkan HKD paling banter cuma 500 rupiah. Artinya, bila dibanding-bandingkan, harga-harga di Singapura jauh lebih melonjak dan faktanya memang menjadi mahal. Makanya saya akan heran kalau Anda doyan liburan dan shopping berulang kali ke Singapura tapi masih ragu ke Hong Kong dan Macau. Maksud saya, kalau sudah gape ke Singapura, tidak ada salahnya mengarahkan destinasi Anda selanjutnya ke Hong Kong cs.
Oke, sekian dulu postingan kali ini. Masih penasaran dengan kelanjutannyakan? Ikuti terus postingan selanjutnya. Salam travelling. Bersambung